BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Cepat dan Lebih Panjang.

Oleh: Bambang Hariyanto . 4 Maret 2026 . 10:14:26

Jakarta, 4 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam konferensi pers resmi menyampaikan prediksi musim kemarau tahun 2026. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa musim kemarau kali ini diperkirakan datang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Musim kemarau diprediksi mulai berlangsung pada bulan April, bahkan bisa lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.

Awal musim kemarau akan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara, kemudian bergerak secara bertahap ke arah Barat. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan. BMKG menekankan bahwa masyarakat dan pemerintah daerah perlu segera menyiapkan langkah antisipasi agar dampak negatif bisa diminimalisasi.

Pada periode September, puncak musim kemarau masih akan dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, serta sebagian besar Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua juga akan merasakan intensitas kemarau yang tinggi.

Lebih lanjut, BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya di 451 Zona Musim (ZOM) atau 64,5% wilayah Indonesia. Sebanyak 245 ZOM (35,1%) diperkirakan mengalami kemarau normal, sementara hanya 3 ZOM (0,4%) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau atas normal atau lebih basah.

“Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” jelas Faisal dalam konferensi pers. Dalam kaitannya dengan sektor pertanian, musim kemarau yang lebih cepat dan lebih panjang menuntut adanya strategi pemanfaatan air yang lebih bijak. Petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan memilih varietas yang hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen singkat. Selain itu, pengelolaan irigasi yang efisien, seperti penggunaan sistem irigasi tetes atau sprinkler, dapat membantu mengurangi pemborosan air. Penyimpanan air melalui embung, kolam, atau sumur resapan juga menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan air sepanjang musim kemarau. Dengan penerapan strategi ini, diharapkan ketahanan pangan tetap terjaga meski menghadapi tantangan iklim yang semakin dinamis.

BMKG berharap informasi ini dapat menjadi peringatan dini bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat agar lebih siap menghadapi musim kemarau 2026. Dengan mitigasi yang tepat, dampak negatif bisa ditekan, ketahanan pangan tetap terjaga, dan kesejahteraan masyarakat tidak terganggu.

Agenda

23 Februari 2018

Seminar Proposal Mahasiswa Agribisnis

Ranti I songi
1. Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruadi, MP
2. Dr. Ir. Asda Rauf, M.Si
3. Amelia Murtisari, SP, M.Si
4. Ahmad Fadhli, SE, M.Si
5. Echan Adam, SE, MM

22 Februari 2018

Seminar Proposal Mahasiswa Agribisnis

Mohammad Kifli
Pembimbing 1 Wawan K Tolinggi. SP.,M.Si
Pembimbing 2 Amelia Murtisari. SP.,M.Sc

20 - 22 Agustus 2016

MOMB Mahasiswa Agribisnis

Masa Orientasi Mahasiswa Baru (MOMB) merupakan kegiatan awal bagi mahasiswa yang baru diterima di Perguruan Tinggi.